Minggu, 06 November 2016

"WASIAT BATANG KELOR"















Wasiat Batang Kelor adalah salah satu naskah yang telah di bentuk oleh Maulana Firdaus dengan konsep penulisan dan pemikiranya. Ini adalah produksi Kantong Teater yang ke-5 dengan gaya tipe pembawaan Lenong Denes.  Di Festival Lenong ini Kantong Teater diundang langsung dari salah satu grup lenong yang berada dijakarta timur (Sanggar Oplet Robet). Dan diselenggarakan di Walikota Jakarta Timur 

Dilakon kali ini Maulana Firdaus selaku sutradara membuat adegan dengan berbagai rasa, dengan artian banyak sekali selipan selipan yang membuat penonton menjadi sedih,teggang,takut,tertawa serta gembira. Pementasan ini menjadi sebuah nilai tambahan dari juri karena membawakan lenong yang berbeda dari grup lainya, dari semua grup yang tampil, hanya Kantong Teater yang berbeda dikarenakan Kantong Teater membawakan Lenong Denes, sedangkan grup-grup lainya membawakan Lenong Preman, sehingga itulah Kantong Teater mendapatkan nila tambahan dan menjadi grup Terbaik I. Dan menggisi acara di malam tahun baru 2016.

Cerita ini mengisahkan disebuah Kerajaan Negeri Nirwana yang begitu amat damai dan megah, Raja Sulaiman selaku orang yang berkuasa dikerajaan panik karena putri semata wayangnya menghilang tiba tiba, padahal putrinya itu sama sekali tidak pernah keluar dari kerajaan. Permaisuri Nada Rahma pun selaku ibu dari si Putri Kirana Kalsum kaget serta amat sedih ketika anak yang sangat disayangnya menghilang begitu saja, Raja Sulaiman pun semakin panik karena melihat permaisurinya menangis tak henti-henti, akhirnya Raja Sulaiman mengadakan audisi atau sayembara untuk mencari putri kesayanganya itu. Singkat cerita ada seorang kakek-kakek bersama cucunya yang dengan ikhlas ingin membantu Raja Sulaiman dan Permaisuri Nada Rahma, Suryadiraja atau si kakek memberi perintah kepada cucunya si Ahmad Mugeni untuk pergi kesuatu hutan yang berada diselatan kerajaan dan menitipkan sebuah Batang Kelor, akhirnya Ahmad Mugeni pun menjalankan perintah yang diberi kakeknyaa. Setelah sampai disebuah hutan Ahmad Mugeni pun datang ketempat Sarang Penyamun yang di ketuai oleh Kohar, Ahmad Mugeni pun beradu kekuatan dengan Kohar dan anak buahnya, Kohar dan anak buahnya pun kalah dengan Ahmad Mugeni, dan pada akhirnya Kohar pun memanggil Jin yang dia punya, Ahmad Mugeni pun kalah ketika beradu kekuatan dengan si Jin, Ahmad Mugeni teringat pesan kakeknya saat dikerajaan, dan akhirnya Ahmad Mugeni mengeluarkan Batang Kelor yang dikasih dari kakeknya, dan si Jin menyerah dengan kesaktian Batang Kelor itu, Ahmad Mugeni merebut kembali Putri Kirana Kalsum dari tangan si Kohar, Jin pun menggambil kembali kekuatan si Kohar, dan Kohar pun kembali menjadi seorang pemuda idiot, Kohar pun dibawa ke kerajaan, amat senang Raja Sulaiman dan Permaisuri Nada Rahma ketika Putri Kirana Kalsum nya kembali ke kerajaan, Raja Sulaiman memberikan Titah kepada para pengawalnya untuk memenggal kepalanya si Kohar, tetapi Suryadiraja (kakek) menghalang jalan pengawal dan menjelaskan kepada Raja Sulaiman bahwa Kohar itu memang pemuda idiot, dia bisa normal dikarena kan menyambit buah yang ber isi si Jin yang ada di hutan dengan tidak sengaja sehingga si Jin bebas dari kutukannya, dan memberikan timbal baliknya kepada si Kohar, dan ketika kekuatan si Kohar di ambil kembali oleh si Jin, kohar pun kembali menjadi pemuda idiot. Raja Sulaiman pun memahami penjelasan itu dari Suryadiraja, akhirnya Titah yang tadi telah dikeluarkan oleh Baginda Raja Sulaiman di cabut kembali, dan menyuruh pengawalnya untuk melepaskan si Kohar serta menggabarkan kepada seluruh rakyat Negeri Nirwana untuk menggumpul di halaman kerajaan, dikarenakan Raja Sulaiman dan Permaisuri Nada Rahma ingin merayakan atas kembalinya Putri Kirana Kalsum. Dan berjanji akan memakmurkan rakyat-rakyatnya.

Jadi itulah kisah Lenong Denes yang dibawakan oleh Kantong Teater dalam "Festival Lenong 2015" yang di selenggarakan di Walikota Jakarta Timur.

Terima Kasih.

SALAM BUDAYA.

Jumat, 04 November 2016

Kantong Teater

Dalam acara Festival Teater Jakarta 2012
Dengan lakon Parlemen WC
Karya Ribut Ahwandi
Sutradara Maulana Firdaus